Beda Batuk karena Flu Biasa dengan Omicron BA.4 dan BA.5

Jakarta, CakrawalaRafflesia

Kehadiran subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 menjadi kekhawatiran tersendiri di tengah masyarakat.

Sejumlah ahli mengatakan bahwa infeksi yang disebabkan subvarian anyar ini menimbulkan gejala yang ringan, serupa flu biasa. Hal itu membuat banyak orang kerap luput melakukan tes swab, baik antigen maupun PCR, saat mengalami gejala.

Batuk dan sakit tenggorokan disebut sebagai dua gejala yang paling umum dialami pasien subvarian baru ini di Indonesia. Lantas, bagaimana melihat beda Omicron BA.4 dan BA.5 dengan flu biasa?

Salah satunya mungkin bisa dilihat dengan batuk. Pada orang yang terinfeksi Omicron BA.4 dan BA.5, batuk yang muncul cenderung kering, sama seperti varian lainnya. Sementara pada kasus flu, batuk bisa muncul disertai dahak.

Namun, bukan berarti Anda bisa tenang jika mengalami batuk berdahak.

“Kalau batuk, harus aware dulu. Bisa aja Covid-19, ada infeksi sekunder, lalu batuk berdahak. Infeksi sekunder bisa dari kuman, dari mulut, apalagi para perokok, cepat sekali jadi infeksi,” jelas dokter spesialis paru-konsultan RSUP Persahabatan, Fathiyah Isbaniah, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (23/6).

Secara keseluruhan, Fathiyah mengakui memang cukup sulit membedakan antara Covid-19 yang disebabkan subvarian baru ini dengan flu biasa.

“Sama saja sebenarnya. Ya, ada demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan. Dulu, varian Delta tidak terlalu dominan pilek, ternyata sekarang pileknya lebih banyak dari yang kemarin,” ujar Fathiyah.

Fathiyah mengatakan, baik Covid-19 ataupun flu sama-sama merupakan infeksi saluran pernapasan atas. Keduanya tentu mengeluarkan gejala yang sama.

“Ini, kan, gejala infeksi saluran napas atas, sama kayak flu. Agak sulit [dibedakan] ya,” kata dia.




Ilutrasi. Beda flu biasa dengan Omicron BA.4 dan BA.5 salah satunya bisa dilihat dari batuk. (iStockphoto/evrim ertik)

Sejauh ini, ada beberapa gejala yang ditemukan pada pasien Omicron BA.4 dan BA.5. Berikut diantaranya:

– demam;
– batuk;
– lemas atau merasa lelah;
– hidung tersumbat;
– sakit tenggorokan;
– nyeri otot;
– sakit kepala;
– diare;
– mual dan muntah.

Per 23 Juni 2022 kemarin, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan sebanyak 143 kasus Covid-19 yang disebabkan subvarian Omicron baru. Sebanyak 20 kasus disebabkan oleh subvarian BA.4, sementara 123 lainnya dipicu oleh BA.5.

Jakarta ditemukan sebagai lokasi dengan kasus Omicron BA.4 dan BA.5 terbanyak dengan 98 pasien. Disusul oleh Jawa Barat (29 kasus), Banten (13 kasus), dan Bali (3 kasus).

Meski cenderung lebih ringan, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan tetap menjalankan protokol kesehatan dengan ketat.

“Kalau harus meeting di ruangan tertutup, pastikan jaga jarak, pastikan semua pakai masker, pintu jendela dibuka atau pakai HEPA¬†filter. Masker pakai yang ketat dan tepat, jangan masker longgar,” pungkas Fathiyah.

(els/asr)

[Gambas:Video CNN]


Baca Juga :  6 Alasan Wanita Tak Bisa Menikmati Sesi Bercinta, Pria Wajib Tahu

Tinggalkan komentar